Feeds:
Pos
Komentar

Pulau Bali

Bali adalah nama salah satu provinsi di Indonesia dan juga merupakan nama pulau terbesar yang menjadi bagian dari provinsi tersebut. Selain terdiri dari Pulau Bali, wilayah Provinsi Bali juga terdiri dari pulau-pulau yang lebih kecil di sekitarnya, yaitu Pulau Nusa Penida, Pulau Nusa Lembongan, Pulau Nusa Ceningan dan Pulau Serangan.

Bali terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Ibukota provinsinya ialah Denpasar yang terletak di bagian selatan pulau ini. Mayoritas penduduk Bali adalah pemeluk agama Hindu. Di dunia, Bali terkenal sebagai tujuan pariwisata dengan keunikan berbagai hasil seni-budayanya, khususnya bagi para wisatawan Jepang dan Australia. Bali juga dikenal dengan sebutan Pulau Dewata dan Pulau Seribu Pura.

Pulau Bali adalah bagian dari Kepulauan Sunda Kecil sepanjang 153 km dan selebar 112 km sekitar 3,2 km dari Pulau Jawa. Secara astronomis, Bali terletak di 8°25′23″ Lintang Selatan dan 115°14′55″ Bujur Timur yang membuatnya beriklim tropis seperti bagian Indonesia yang lain.

Gunung Agung adalah titik tertinggi di Bali setinggi 3.148 m. Gunung berapi ini terakhir meletus pada Maret 1963. Gunung Batur juga salah satu gunung yang ada di Bali. Sekitar 30.000 tahun yang lalu, Gunung Batur meletus dan menghasilkan bencana yang dahsyat di bumi. Berbeda dengan di bagian utara, bagian selatan Bali adalah dataran rendah yang dialiri sungai-sungai.

Berdasarkan relief dan topografi, di tengah-tengah Pulau Bali terbentang pegunungan yang memanjang dari barat ke timur dan diantara pegunungan tersebut terdapat gugusan gunung berapi yaitu Gunung Batur dan Gunung Agung serta gunung yang tidak berapi, yaitu Gunung Merbuk, Gunung Patas dan Gunung Seraya. Adanya pegunungan tersebut menyebabkan Daerah Bali secara Geografis terbagi menjadi 2 (dua) bagian yang tidak sama yaitu Bali Utara dengan dataran rendah yang sempit dan kurang landai dan Bali Selatan dengan dataran rendah yang luas dan landai. Kemiringan lahan Pulau Bali terdiri dari lahan datar (0-2%) seluas 122.652 ha, lahan bergelombang (2-15%) seluas 118.339 ha, lahan curam (15-40%) seluas 190.486 ha dan lahan sangat curam (>40%) seluas 132.189 ha. Provinsi Bali memiliki 4 (empat) buah danau yang berlokasi di daerah pegunungan, yaitu Danau Beratan, Buyan, Tamblingan dan Danau Batur.

Ibu kota Bali adalah Denpasar. Tempat-tempat penting lainnya adalah Ubud sebagai pusat seni terletak di Kabupaten Gianyar, sedangkan Kuta, Sanur, Seminyak, Jimbaran dan Nusa Dua adalah beberapa tempat yang menjadi tujuan pariwisata, baik wisata pantai maupun tempat peristirahatan.

Luas wilayah Provinsi Bali adalah 5.636,66 km2 atau 0,29% luas wilayah Republik Indonesia. Secara administratif Provinsi Bali terbagi atas 9 kabupaten/kota, 55 kecamatan dan 701 desa/kelurahan.

Sejarah

Penghuni pertama pulau Bali diperkirakan datang pada 30002500 SM yang bermigrasi dari Asia.[3] Peninggalan peralatan batu dari masa tersebut ditemukan di desa Cekik yang terletak di bagian barat pulau.[4] Zaman prasejarah kemudian berakhir dengan datangnya ajaran Hindu dan tulisan Sansekerta dari India pada 100 SM.[rujukan?]

Kebudayaan Bali kemudian mendapat pengaruh kuat kebudayaan India yang prosesnya semakin cepat setelah abad ke-1 Masehi. Nama Balidwipa (pulau Bali) mulai ditemukan di berbagai prasasti, diantaranya Prasasti Blanjong yang dikeluarkan oleh Sri Kesari Warmadewa pada 913 M dan menyebutkan kata Walidwipa. Diperkirakan sekitar masa inilah sistem irigasi subak untuk penanaman padi mulai dikembangkan. Beberapa tradisi keagamaan dan budaya juga mulai berkembang pada masa itu. Kerajaan Majapahit (12931500 AD) yang beragama Hindu dan berpusat di pulau Jawa, pernah mendirikan kerajaan bawahan di Bali sekitar tahun 1343 M. Saat itu hampir seluruh nusantara beragama Hindu, namun seiring datangnya Islam berdirilah kerajaan-kerajaan Islam di nusantara yang antara lain menyebabkan keruntuhan Majapahit. Banyak bangsawan, pendeta, artis dan masyarakat Hindu lainnya yang ketika itu menyingkir dari Pulau Jawa ke Bali.

Orang Eropa yang pertama kali menemukan Bali ialah Cornelis de Houtman dari Belanda pada 1597, meskipun sebuah kapal Portugis sebelumnya pernah terdampar dekat tanjung Bukit, Jimbaran, pada 1585. Belanda lewat VOC pun mulai melaksanakan penjajahannya di tanah Bali, akan tetapi terus mendapat perlawanan sehingga sampai akhir kekuasaannya posisi mereka di Bali tidaklah sekokoh posisi mereka di Jawa atau Maluku. Bermula dari wilayah utara Bali, semenjak 1840-an kehadiran Belanda telah menjadi permanen yang awalnya dilakukan dengan mengadu-domba berbagai penguasa Bali yang saling tidak mempercayai satu sama lain. Belanda melakukan serangan besar lewat laut dan darat terhadap daerah Sanur dan disusul dengan daerah Denpasar. Pihak Bali yang kalah dalam jumlah maupun persenjataan tidak ingin mengalami malu karena menyerah, sehingga menyebabkan terjadinya perang sampai mati atau puputan yang melibatkan seluruh rakyat baik pria maupun wanita termasuk rajanya. Diperkirakan sebanyak 4.000 orang tewas dalam peristiwa tersebut, meskipun Belanda telah memerintahkan mereka untuk menyerah. Selanjutnya, para gubernur Belanda yang memerintah hanya sedikit saja memberikan pengaruhnya di pulau ini, sehingga pengendalian lokal terhadap agama dan budaya umumnya tidak berubah.

Jepang menduduki Bali selama Perang Dunia II dan saat itu seorang perwira militer bernama I Gusti Ngurah Rai membentuk pasukan Bali ‘pejuang kemerdekaan’. Menyusul menyerahnya Jepang di Pasifik pada bulan Agustus 1945, Belanda segera kembali ke Indonesia (termasuk Bali) untuk menegakkan kembali pemerintahan kolonialnya layaknya keadaan sebelum perang. Hal ini ditentang oleh pasukan perlawanan Bali yang saat itu menggunakan senjata Jepang.

Pada 20 November 1945, pecahlah pertempuran Puputan Margarana yang terjadi di desa Marga, Kabupaten Tabanan, Bali tengah. Kolonel I Gusti Ngurah Rai yang berusia 29 tahun, memimpin tentaranya dari wilayah timur Bali untuk melakukan serangan sampai mati pada pasukan Belanda yang bersenjata lengkap. Seluruh anggota batalion Bali tersebut tewas semuanya dan menjadikannya sebagai perlawanan militer Bali yang terakhir.

Pada tahun 1946 Belanda menjadikan Bali sebagai salah satu dari 13 wilayah bagian dari Negara Indonesia Timur yang baru diproklamasikan, yaitu sebagai salah satu negara saingan bagi Republik Indonesia yang diproklamasikan dan dikepalai oleh Sukarno dan Hatta. Bali kemudian juga dimasukkan ke dalam Republik Indonesia Serikat ketika Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada 29 Desember 1949. Tahun 1950, secara resmi Bali meninggalkan perserikatannya dengan Belanda dan secara hukum menjadi sebuah propinsi dari Republik Indonesia.

Letusan Gunung Agung yang terjadi di tahun 1963, sempat mengguncangkan perekonomian rakyat dan menyebabkan banyak penduduk Bali bertransmigrasi ke berbagai wilayah lain di Indonesia.

Tahun 1965, seiring dengan gagalnya kudeta oleh G30S terhadap pemerintah nasional di Jakarta, di Bali dan banyak daerah lainnya terjadilah penumpasan terhadap anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia. Di Bali, diperkirakan lebih dari 100.000 orang terbunuh atau hilang. Meskipun demikian, kejadian-kejadian di masa awal Orde Baru tersebut sampai dengan saat ini belum berhasil diungkapkan secara hukum.[5]

Serangan teroris telah terjadi pada 12 Oktober 2002, berupa serangan Bom Bali 2002 di kawasan pariwisata Pantai Kuta, menyebabkan sebanyak 202 orang tewas dan 209 orang lainnya cedera. Serangan Bom Bali 2005 juga terjadi tiga tahun kemudian di Kuta dan pantai Jimbaran. Kejadian-kejadian tersebut mendapat liputan internasional yang luas karena sebagian besar korbannya adalah wisatawan asing dan menyebabkan industri pariwisata Bali menghadapi tantangan berat beberapa tahun terakhir ini.

Legenda Gunung Semeru

Menurut kepercayaan masyarakat Jawa yang ditulis pada kitab kuna Tantu Pagelaran yang berasal dari abad ke-15, pada dahulu kala Pulau Jawa mengambang di lautan luas, terombang-ambing dan senantiasa berguncang. Para Dewa memutuskan untuk memakukan Pulau Jawa dengan cara memindahkan Gunung Meru di India ke atas Pulau Jawa.

Dewa Wisnu menjelma menjadi seekor kura-kura raksasa menggendong gunung itu dipunggungnya, sementara Dewa Brahma menjelma menjadi ular panjang yang membelitkan tubuhnya pada gunung dan badan kura-kura sehingga gunung itu dapat diangkut dengan aman.

Dewa-Dewa tersebut meletakkan gunung itu di atas bagian pertama pulau yang mereka temui, yaitu di bagian barat Pulau Jawa. Tetapi berat gunung itu mengakibatkan ujung pulau bagian timur terangkat ke atas. Kemudian mereka memindahkannya ke bagian timur pulau Jawa. Ketika gunung Meru dibawa ke timur, serpihan gunung Meru yang tercecer menciptakan jajaran pegunungan di pulau Jawa yang memanjang dari barat ke timur. Akan tetapi ketika puncak Meru dipindahkan ke timur, pulau Jawa masih tetap miring, sehingga para dewa memutuskan untuk memotong sebagian dari gunung itu dan menempatkannya di bagian barat laut. Penggalan ini membentuk Gunung Pawitra, yang sekarang dikenal dengan nama Gunung Pananggungan, dan bagian utama dari Gunung Meru, tempat bersemayam Dewa Shiwa, sekarang dikenal dengan nama Gunung Semeru. Pada saat Sang Hyang Siwa datang ke pulau jawa dilihatnya banyak pohon Jawawut, sehingga pulau tersebut dinamakan Jawa.

Lingkungan geografis pulau Jawa dan Bali memang cocok dengan lambang-lambang agama Hindu. Dalam agama Hindu ada kepercayaan tentang Gunung Meru, Gunung Meru dianggap sebagai rumah tempat bersemayam dewa-dewa dan sebagai sarana penghubung diantara bumi (manusia) dan Kayangan. Banyak masyarakat Jawa dan Bali sampai sekarang masih menganggap gunung sebagai tempat kediaman Dewata, Hyang, dan mahluk halus.
Menurut orang Bali Gunung Mahameru dipercayai sebagai Bapak Gunung Agung di Bali dan dihormati oleh masyarakat Bali. Upacara sesaji kepada para dewa-dewa Gunung Mahameru dilakukan oleh orang Bali. Betapapun upacara tersebut hanya dilakukan setiap 8-12 tahun sekali hanya pada waktu orang menerima suara gaib dari dewa Gunung Mahameru. Selain upacara sesaji itu orang Bali sering datang ke daerah Gua Widodaren untuk mendapat Tirta suci.

Gunung Semeru atau Sumeru adalah gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa, dengan puncaknya Mahameru, 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl). Kawah di puncak Gunung Semeru dikenal dengan nama Jonggring Saloko.

Semeru mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.

Posisi gunung ini terletak diantara wilayah administrasi Kabupaten Malang dan Lumajang, dengan posisi geografis antara 8°06′ LS dan 120°55′ BT.

Pada tahun 1913 dan 1946 Kawah Jonggring Saloka memiliki kubah dengan ketinggian 3.744,8 M hingga akhir November 1973. Disebelah selatan, kubah ini mendobrak tepi kawah menyebabkan aliran lava mengarah ke sisi selatan meliputi daerah Pronojiwo dan Candipuro di Lumajang.

 

Gunung Bromo

Gunung Bromo (2.329 m dpl), adalah salah satu gunung dari beberapa gunung lainnya yang terhampar di kawasan Komplek Pegunungan Tengger, berdiri diareal Kaldera berdiameter 8-10 km yang dinding kalderanya mengelilingi laut pasir sangat terjal dengan kemiringan ± 60-80 derajat dan tinggi berkisar antara 200-600 meter. Daya tarik Gunung Bromo yang istimewa adalah kawah di tengah kawah dengan lautan pasirnya yang membentang luas di sekeliling kawah Bromo yang sampai saat ini masih terlihat mengepulkan asap putih setiap saat, manandakan Gunung ini masih aktif.

Sejarah Pembentukan

Menurut sejarah terbentuknya Gunung Bromo dan lautan pasir berawal dari dua gunung yang saling berimpitan satu sama lain. Gunung Tengger (4.000 m dpl) yang merupakan gunung terbesar dan tertinggi pada waktu itu. Kemudian terjadi letusan kecil, materi vulkanik terlempar ke tenggara sehingga membentuk lembah besar dan dalam sampai ke desa sapi kerep. Letusan dahsyat kemudian menciptakan kaldera dengan diameter lebih dari delapan kilometer. Karena dalamnya kaldera, materi vulkanik letusan lanjutan tertumpuk di dalam dan sekarang menjadi lautan pasir dan di duga dulu kala pernah terisi oleh air dan kemudian aktivitas lanjutan adalah munculnya lorong magma ditengah kaldera sehingga muncul gunung – gunung baru antara lain Lautan pasir, Gunung Widodaren, Gunung watangan, Gunung Kursi, Gunung Batok dan Gunung Bromo.

Legenda Masyarakat

Menurut legenda dijelaskan tentang asal usul Suku Tengger ini. Dahulu di pulau Jawa di perintah oleh Raja Brawijaya dari Majapahit yang mempunyai anak perempuan bernama Rara Anteng yang menikah dengan Joko Seger, keturunan Brahmana. Ketika terjadi pergolakan di pulau Jawa, sebagian masyarakat yang setia pada agama Hindu melarikan diri ke pulau Bali. Sebagian lainnya menarik diri dari dunia keramaian dan bermukim di sebuah dataran tinggi di kaki Gunung Bromo, dipimpin oleh Roro Anteng dan Joko Seger, jadilah mereka suku Tengger, kependekan dari AnTeng dan SeGer.

Menikmati Matahari Terbit

Salah satu atraksi yang paling menarik di atas Gunung Bromo adalah Matahari terbit. Gumpalan awan yang menutup langit perlahan – lahan tersibak oleh bola putih kekuning – kuningan. Cahaya merah merona diufuk timur. Perlahan – lahan timbulah temberang yang kian membesar hingga membentuk setengah lingkaran sang surya y\nang merah menyala. Berangsur – angsur warnanya berubah menjadi keemasan. Udara sekitar mulai menerang. Mulailah suatau hari dan kehidupan yang baru. Semuanya mengingatkan kita akan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Kecuali di puncak Bromo, atraksi matahari terbit bisa di lihat di Puncak Pananjakan.

 

Upacara Kasada (kasodo)

Pada tanggal 14 dan 15 bulan ke duabelas (tahun Jawa) atau bulan Desember/Januari (tahun Masehi) diadakan upacara Kasada. Dalam upacara ini dikorbankan sebagian hasil sawah, ladang dan ternak masyarakat dengan melemparkannya ke kawah Gunung Bromo sebagai tanda syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain Upacara Kasodo juga di kenal Upacara Karo Dan Ayak-ayak.

Menikmati Matahari Terbit

Salah satu atraksi yang paling menarik di atas Gunung Bromo adalah Matahari terbit. Gumpalan awan yang menutup langit perlahan – lahan tersibak oleh bola putih kekuning – kuningan. Cahaya merah merona diufuk timur. Perlahan – lahan timbulah temberang yang kian membesar hingga membentuk setengah lingkaran sang surya y\nang merah menyala. Berangsur – angsur warnanya berubah menjadi keemasan. Udara sekitar mulai menerang. Mulailah suatau hari dan kehidupan yang baru. Semuanya mengingatkan kita akan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Kecuali di puncak Bromo, atraksi matahari terbit bisa di lihat di Puncak Pananjakan.

Menuju Lokasi

Dari Surabaya. Untuk menuju Gunung Bromo dari arah Pasuruan. Dari Surabaya kita naik bis menuju Probolinggo dan turun di Pasuruan yang membutuhkan watu 1,5 jam. Selanjutnya naik colt menuju Desa Tosari – Wonokitri.

Di Wonokitri kita dapat bermalam di hotel atau losmen atau dapat juga langsung meneruskan per-jalanan menuju Gunung Pananjakan atau masuk ke lautan pasir menuju puncak Gunung Bromo.

Bila dari arah Probolinggo, kita naik colt atau bis menuju Sukapura, kemudian kita terus ke Ngadisari. Dari Ngadisari naik kuda atau berjalan kaki menuju Cemoro lawang ± 3 km. Di Cemoro lawang kita dapat bermalam di hotel atau losmen. Besuk pagi kita dapat melanjutkan perjalanan ke kawah Gunung Bromo, yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki atau naik kuda yang disewakan oleh masyarakat setempat.

Bila dari arah Malang kita bisa lewat Jemplang, Ngadas. Dari Malang naik minibus menuju ke Tumpang (18 Km) sekitar 30 menit. Dari Tumpang perjalanan kita lanjutkan dengan naik Jeep menuju ke Jemplang sekitar 1,5 jam perjalanan melewati Desa Gubuk Klakah dan Desa Ngadas. Disekitar perjalanan kita dapat menyaksikan pemandangan alam yang berupa kebun-kebun penduduk yang berada di lereng-lereng gunung dan hutan alam yang masih asli. Memasuki Desa Ngadas di sekitar jalan kita melewati hutan cemara yang tertata rapi. Kondisi jalan dari Tumpang menuju Jemplang sekarang sudah baik.

Hutan Bambu, Lumajang Merindu

Hutan bambu Lumajang mungkin tinggal satu-satunya di Indonesia. Rasanya, Anda perlu mengunjungi hutan yang menebarkan pesona amat indah nan lestari, di kaki Gunung Semeru itu.

Mungkin sebagian kita bertanya-tanya, apa indahnya hutan bambu? Tapi, hutan yang berada di Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur ini, memang memiliki pesona yang mengagumkan. Hutan seluas sembilan hektar ini berada di tengah-tengah di antara desa-desa yang mengitarinya.
Sekitar 250 rumpun bambu, yang terdiri dari 10 jenis bambu (apus, petung ungu, petung hijau, ori, ampel hijau, ampel kuning, cina, rampai, putih dan jajag), membentuk lorong-lorong yang menaungi jalan-jalan ke desa sekitar. Ke arah utara dibatasi aliran sungai Besuktunggeng masuk Desa Pasrujambe Kecamatan Pasrujambe; ke selatan masuk Desa Sumberwuluh Kecamatan Sumberwuluh; ke timur masuk Desa Penanggal Kecamatan Candipuro; sedangkan ke arah barat berbatasan dengan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru (TNBTS).
Panorama di hutan makin terasa keindahannya bila pagi hari. Hawa sejuk, sinar mentari yang menerobos masuk di sela-sela batang dan dedaunan bambu, menyiratkan keelokan alam yang tak terkira. Apalagi menyaksikan orang-orang desa yang tengah mandi atau mencuci baju di kolam, sambil mendengar gemeremang cengkerama diselingi tawa-tawa kecil mereka. Sungguh fantastis!
Bak sebuah kebun binatang, hutan yang berlokasi di 35 kilometer arah barat dari Kabupaten Lumajang, atau delapan kilometer dari Kecamatan Candipuro dengan ketinggian di atas 700 meter dari permukaan laut (dpl) ini, juga dihuni banyak satwa. Diantaranya, kera yang jumlahnya diperkirakan lebih dari 50 ekor, ribuan kalong, tupai dan macan.
Dan, ini yang paling menyejarah dalam pelestarian hutan bambu maupun kehidupan masyarakat Sumbermujur dan sekitarnya, adalah keberadaan sumber mata air di situ. Warga desa memanfaatkan sumber air itu, baik untuk minum maupun sumber irigasi sawah pertanian.

Oase Warga
Keberadaan hutan bambu sudah ada sejak zaman Belanda mengangkangi bumi pertiwi ini. Saat itu, Belanda menganjurkan kepada masyarakat untuk menanam tanaman keras termasuk bambu selain pertanian. Tapi sejak pemerintahan Jepang, masyarakat dikenalkan dan diajari menganyam bambu sebagai kerajinan, yang turun-temurun hingga sekarang.
Sialnya, bahan baku anyaman bambu diambilkan dari hutan bambu yang merupakan tiang penyangga sumber air satu-satunya di situ. Tak urung, lama-kelamaan sumber air mengering seiring dengan pembabatan hutan bambu yang terus dilakukan. Sejak diperkenalkannya kerajinan anyaman bambu di Sumbermujur di kaki Gunung Semeru, usaha pertanian sempat terbengkalai.
Tanaman padi paling tinggi menghasilkan 2-3 ton per ha. Ini terutama disebabkan semakin kecilnya debit sumber air Umbulan yang selama ini menjadi sumber irigasi. Mengecilnya debit sumber air antara lain disebabkan hutan bambu yang berfungsi sebagai resapan air mulai habis ditebangi.
Akhirnya, perusakan hutan yang mengancam lingkungan itu menyentak kesadaran Herry Gunawan, 52 tahun, untuk menghentikannya. Bersama Kelompok Tani Kali Jambe yang dibentuk pada akhir 1970-an, berusaha menyadarkan masyarakat akan pentingnya pelestarian lingkungan yang berpengaruh terhadap usaha pertanian di desa itu. Kelompok Tani Kali Jambe kemudian diubah namanya menjadi Kelompok Pelestari Sumber Daya Alam (KPSA) “Kali Jambe”. Kelompok inilah yang kemudian mampu menyadarkan warga perajin bambu beralih profesi menjadi petani dan pedagang, dan kemudian bersama anggota kelompok lainnya merawat rumpun bambu hingga lebat kembali.
Dulu, menurut Herry Gunawan, ketua KPSA Kali Jambe, debit air Umbulan pernah mencapai 1333 liter per detik. Namun, karena pembabatan hutan bambu dan hutan di TNBTS masih terjadi, terutama sejak bergulirnya reformasi pada 1999, akibatnya baru dirasakan setelah lima tahun kemudian (2003, red), yaitu debit air menurun hingga mencapai 600-800 liter per detik. Toh masih untung, debit air itu masih mampu mengairi sekitar 891 ha sawah, termasuk 376 ha sawah di Sumbermujur dan tiga desa lainnya, yakni Kloposawit, Tambakrejo dan Penanggal.
Boleh dikata, upaya Herry bersama KPSA-nya sejak 1979 cukup berhasil memulihkan kondisi lingkungan Desa Sumbermujur. Hutan bambu tetap terjaga kelestariannya, dan produksi padi pun meningkat menjadi 4-5 ton per ha.

Wisata Integral
Terjaganya kelestarian hutan bambu, sehingga menyembulkan keindahan panorama alam di Sumbermujur, sangat beralasan bila Herry berangan-angan nantinya hutan bambu bisa menjadi obyek wisata berwawasan lingkungan (agrowisata) yang banyak dikunjungi wisatawan. Tapi untuk mewujudkan impian itu, diakui, memang tak semudah membalik tangan.
Hal terpenting yang selalu ditekankan olehnya adalah kesadaran bersama dalam menjaga kelestarian sumber daya alam dan lingkungan secara berkelanjutan. Karena itu, penajaman demi penajaman akan pentingnya lingkungan bagi kelangsungan hidup selalu dilakukan dalam berbagai forum dan kesempatan. Baik pada saat tahlilan, atau lewat lembaga-lembaga desa yang ada.
Herry khawartir, “Kalau tidak ada yang berpihak kepada lingkungan dan berkelanjutan, nantinya akan hancur, mungkin 10 atau 20 tahun lagi. Karena itu kita membuat gerakan, agar angan-angan ini bisa terwujud.” Berkelanjutan yang dimaksud Herry adalah bagaimana generasi kini dan mendatang juga memiliki kesadaran yang sama untuk menjaga kelestarian hutan. Bahkan bila mungkin, usulnya, soal lingkungan bisa dimasukkan dalam kurikulum, menjadi satu mata pelajaran sejak sekolah dasar. Kalau ini berhasil, maka apa yang dinikmati sekarang juga sama bisa dinikmati generasi berikutnya.
Selain usulan itu, dengan prinsip: “jangan wariskan air mata kepada anak cucu kita, tapi wariskan sumber mata air yang berlimpah ruah dan tanah yang subur kepada mereka,” Herry terus mengajak kepada warga desa untuk menanam tanaman keras. Meski sebagian mereka menganggap, kalau ditanami tanaman keras, tanaman tumpang sarinya tidak menghasilkan secara maksimal karena ternaungi tanaman keras.
“Tapi kalau tidak ada tanaman keras, pada musim kemarau seperti saat ini, mau tanam apa. Ini yang sekarang kita rasakan, apalagi nanti. Kalau tidak mau menanam tanaman keras seperti kayu-kayuan, cobalah tanam tanaman keras buah-buahan yang bernilai ekonomis dan puluhan tahun umurnya, seperti durian atau yang lain,” tandasnya.
Soalnya, lanjut Herry, tanaman keras itu berfungsi menyangga resapan air hujan, yang tidak mampu ditampung oleh hutan bambu yang luasnya hanya 9 ha itu. Sekaligus para petani bisa mendapat tambahan penghasilan dari hasil tanaman keras tersebut. Kalau fungsi-fungsi penyangga keseimbangan alam sudah berhasil dilakukan, Herry meyakinkan, angan-angan Desa Sumbermujur dengan hutan bambunya menjadi agrowisata akan benar-benar bisa terwujud.
Selain itu, ia mengandaikan, obyek wisata ini akan makin menarik para wisatawan, kalau keelokan hutan bambu bisa diintegrasikan dengan keindahan alam yang lain, yaitu Gunung Sawur. “Kami pernah mengusulkan, agar obyek wisata hutan bambu dikemas jadi satu dengan Gunung Sawur. Sayangnya, hingga kini belum ada respon,” gerutunya.
Sebetulnya, katanya, Gunung Sawur mempunyai potensi yang sangat indah. Di situ ada tempat pemantauan gunung semeru. Itu indah sekali, hanya belum tersentuh. Di sana ada sumber air, meski kecil. “Rasanya cukup kalau hanya untuk kolam renang,” ujarnya. Bahkan, jauh sebelum ramai-ramainya Bromo, biasanya para wisatawan asing diajak ke Gunung Sawur.
“Alangkah baiknya, kalau ada tempat kolam renang, ada villa untuk menikmati keindahan kota Lumajang dan sekitarnya, atau melihat Gunung Semeru di malam hari yang menyemburkan lava bagai emas berlian. Sangat indah,” tegasnya. “Saya berharap ada investor yang tertarik dan membuat villa di sana. Ketika ada tamu dari mana saja dikenalkan ke sana. Ini ujud sosialisasi. Minimal ada pejabat yang berkeinginan seperti itu, sehingga akan berdampak pada cepatnya penyebaran informasi, sekaligus akan dapat mengangkat ekonomi masyarakat sekitar.”

Sentra Souvenir
Keuletan Herry bersama kelompok tani lainnya, setidaknya sudah membuahkan hasil, dengan dianugerahkannya penghargaan Kalpataru pada 2002 untuk kategori penyelamat lingkungan. Sejak tahun 2002 itu, gaung hutan bambu sudah meluas, sehingga banyak kunjungan yang itu bisa menambah pendapatan orang di desa sekitar. Wisatawan asing yang sudah pernah mampir di hutan bambu, katanya, diantaranya dari Belanda dan Jerman. Berbagai kegiatan lingkungan juga pernah di selenggarakan di situ.
Seiring waktu, sedang diupayakan kelengkapan fasilitas sebagaimana layaknya obyek wisata. Tapi, dengan tegas Herry mengatakan, penambahan fasilitas itu harus tetap berada pada koridor pelestarian lingkungan. “Kami tidak ingin di hutan bambu ini ada satu bangunan pun. Kalaupun ada bangunan hotel sebagai tempat penginapan atau sarana lainnya, kita arahkan di daerah bawah, di desa dan bukan dalam hutan bambu,” katanya.
Kalau wisata ini sudah kenal luas, ia menyarankan, masyarakat atau petani harus siap. Jangan hanya seperti ini. Harus bisa berbuat yang bisa mendatangkan uang. Walau sementara ini belum, tapi konsepnya, menurut herry, harus ada budidaya berbagai jenis tanaman kembang di pot-pot untuk dijual. Dan, budidaya ikan hias sebagai pendukung karena air yang melimpah ruah.
Untuk itu, ia terus melakukan publikasi untuk mendorong masyarakat mau mencontoh dan menanam di sekitar rumahnya. Selain untuk dikonsumsi sendiri, dan menggiring petani ke arah pembibitan tanaman buah-buahan. Kalau tanamannya sedikit tidak perlu membuat grand house karena itu sudah organik. Meski demikian, menurutnya, untuk merealisasikan gagasan itu tidak semudah yang dibayangkan. “Membutuhkan proses,” imbuhnya.
Setidaknya, tanaman padi organik yang dikembangkan Herry bersama kelompok tani di lahan sekitar 25 ha, juga mampu menjadi daya tarik tersendiri. Di samping tanaman hortikultura, seperti cabe, tomat dan kubis yang menghampar di tegalan desa. “Cukup menarik lah apa yang ada di sini menjadi daya tarik wisata. Asal sungguh-sungguh kita ingin menjadikan daerah ini menjadi kawasan agrowisata,” tuturnya.
Harapan itu nyatanya tidak bertepuk sebelah tangan dengan impian pemerintah Kabupaten Lumajang. Seperti dijelaskan Suharwoko, Kepala Sub Bagian Pariwisata Bagian Ekonomi Sekretaris Daerah (Setda) Kabupaten Lumajang, pemerintah sangat mendukung upaya yang dikembangkan masyarakat dan aparat setempat terhadap kawasan Hutan bambu itu. Rencananya, di kawasan itu akan dibangun kolam renang yang lebih layak, dan ditambah pula tempat santai bagi pengunjung.
Di samping itu, aparat desa pun memberi dukungan dengan mengeluarkan Peraturan Desa (Perdes) Nomor 1 Tahun 2001 yang menetapkan sanksi Rp 50.000 per batang bagi siapa saja yang menebang bambu di kawasan hutan bambu. Selain itu, dikeluarkan pula Perdes Nomor 2 Tahun 2001 mengenai larangan memburu dan menggembalakan segala jenis hewan di kawasan hutan bambu.
Herry sendiri nampaknya masih terus berpikir untuk meningkatkan pendapatan warga, terutama anggota kelompok KPSA Kali Jambe. Di antaranya yang dilakukan membudidayakan tanaman murbei yang mampu menahan erosi, sekaligus bisa jadi sumber penghasilan dengan memelihara ulat sutera alam.

 

Kata-kata mutiara

“pabila cinta memanggilmu…
ikutilah dia walau jalannya berliku-liku…
Dan, pabila sayapnya merangkummu…
pasrahlah serta menyerah, walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu…”



“Tubuh mempunyai keinginan yang tidak kita ketahui.

Mereka dipisahkan karena alasan duniawi dan dipisahkan di ujung bumi.
Namun jiwa tetap ada di tangan cinta… terus hidup…
sampai kematian datang dan menyeret mereka kepada Tuhan…”


“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…

seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu…
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…
seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada…”


“Apa yang telah kucintai laksana seorang anak kini tak henti-hentinya aku mencintai…
Dan, apa yang kucintai kini… akan kucintai sampai akhir hidupku,
karena cinta ialah semua yang dapat kucapai… dan tak ada yang akan mencabut diriku dari padanya”


“Kemarin aku sendirian di dunia ini, kekasih; dan kesendirianku… sebengis kematian…

Kemarin diriku adalah sepatah kata yang tak bersuara…, di dalam pikiran malam. Hari ini…
aku menjelma menjadi sebuah nyanyian menyenangkan di atas lidah hari.
Dan, ini berlangsung dalam semenit dari sang waktu yang melahirkan sekilasan pandang,
sepatah kata, sebuah desakan dan… sekecup ciuman”

“Kemarin aku sendirian di dunia ini, kekasih; dan kesendirianku… sebengis kematian…
Kemarin diriku adalah sepatah kata yang tak bersuara…, di dalam pikiran malam. Hari ini…
aku menjelma menjadi sebuah nyanyian menyenangkan di atas lidah hari.
Dan, ini berlangsung dalam semenit dari sang waktu yang melahirkan sekilasan pandang,
sepatah kata, sebuah desakan dan… sekecup ciuman”

 

 

 

 

C I N T A

Cinta adalah sebuah perasaan yang ingin membagi bersama atau sebuah perasaan afeksi terhadap seseorang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut.

DEVINISI

Cinta adalah satu perkataan yang mengandungi makna perasaan yang rumit. Bisa di alami semua makhluk. Penggunaan perkataan cinta juga dipengaruhi perkembangan semasa. Perkataan sentiasa berubah arti menurut tanggapan, pemahaman dan penggunaan di dalam keadaan, kedudukan dan generasi masyarakat yang berbeda. Sifat cinta dalam pengertian abad ke 21 mungkin berbeda daripada abad-abad yang lalu. Ungkapan cinta mungkin digunakan untuk meluapkan perasaan seperti berikut:

  1. Perasaan terhadap keluarga
  2. Perasaan terhadap teman-teman, atau philia
  3. Perasaan yang romantis atau juga disebut asmara
  4. Perasaan yang hanya merupakan kemahuan, keinginan hawa nafsu atau cinta eros
  5. Perasaan sesama atau juga disebut kasih sayang atau agape
  6. Perasaan tentang atau terhadap dirinya sendiri, yang disebut narsisisme
  7. Perasaan terhadap sebuah konsep tertentu
  8. Perasaan terhadap negaranya atau patriotisme
  9. Perasaan terhadap bangsa atau nasionalisme

Pengunaan perkataan cinta dalam masyarakat Indonesia dan Malaysia lebih dipengaruhi perkataan love dalam bahasa Inggris. Love digunakan dalam semua amalan dan arti untuk eros, philia, agape dan storge. Namun demikian perkataan-perkataan yang lebih sesuai masih ditemui dalam bahasa serantau dan dijelaskan seperti berikut:

  1. Cinta yang lebih cenderung kepada romantis, asmara dan hawa nafsu, eros
  2. Sayang yang lebih cenderung kepada teman-teman dan keluarga, philia
  3. Kasih yang lebih cenderung kepada keluarga dan Tuhan, agape
  4. Semangat nusa yang lebih cenderung kepada patriotisme, nasionalisme dan narsisme, storge

JENIS-JENIS CINTA

Seperti banyak jenis kekasih, ada banyak jenis cinta. Cinta berada di seluruh semua kebudayaan manusia. Oleh karena perbedaan kebudayaan ini, maka pendefinisian dari cinta pun sulit ditetapkan. Lihat hipotesis Sapir-Whorf.

Ekspresi cinta dapat termasuk cinta kepada ‘jiwa’ atau pikiran, cinta hukum dan organisasi, cinta badan, cinta alam, cinta makanan, cinta uang, cinta belajar, cinta kuasa, cinta keterkenalan, dll. Cinta lebih berarah ke konsep abstrak, lebih mudah dialami daripada dijelaskan.

Cinta kasih yang sudah ada perlu selalu dijaga agar dapat dipertahankan keindahannya

Laut dan Samudra

Kami menghadirkan kepada Anda Prof. William W Hay, ahli geologi Universitas Colorado, Boulder, Colorado, Amerika Serikat. Sebelumnya dia, sebagai Dekan Rosentiell School of Marine dan Atmospheric Science di Universitas Miami, Miami, Florida, Amerika Serikat. Kami pergi dengannya pada ekspedisi laut untuk menunjukkan kepada kami beberapa fenomena yang berhubungan dengan penelitian kami, keajaiban ilmiah dari al-Quran dan Sunnah. Kami menanyakannya tentang permukaan laut, pembatas antara bagian atas dan bawah laut, dasar samudera, dan geologi laut. Kami juga menanyakan kepada Profesor Hay tentang pembatas air yang bercampur antara air laut dan air sungai. Dia cukup baik dalam menjawab pertanyaan kami secara detail. Dalam kaitannya dengan pencampuran antara laut yang berbeda, dia menjelaskan bahwa dalam kumpulan air ini bukanlah laut yang homogen sebagai­mana yang terlihat. Laut-laut itu agak berbeda, yang membedakan adalah kadar garam yang bermacam-macam, suhu, dan berat jenis. Jika dilihat dengan mikroskop akan terlihat garis putih yang merupakan percampuran antara dua air laut yang berbeda. Masing-masing percampuran ini membagi dua laut yang berbeda dalam suhu, kadar garam, berat jenis, biologi laut, dan kadar oksigen yang larut. Ilmuwan pertama melihat gambar, sebagaimana yang Anda lihat, pada tahun 1942, setelah beratus-ratus tahun tempat penelitian laut itu didirikan. Di sinilah kita lihat perbedaan antara Laut Tengah dan Samudera Atlantik.

Pada foto, kita lihat segitiga yang berwama. Ini adalah dasar batu Gibraltar. Kita dapat mengamati perbedaan warna kedua kumpulan air, meskipun dengan mata telanjang manusia tidak dapat merasakan kealamiannya. Hal itulah yang mungkin dengan alat satelit fotografi dan teknik kegunaan remote. Foto yang dibuat di sini diambil dengan menggunakan satelit, khususnya yang berkaitan dengan panas dari kumpulan air yang berbeda-beda. Dan alasan inilah mengapa laut terlihat memiliki warna yang berbeda. Sebagaimana contoh, kita di sini melihat biru muda, biru tua, dan hitam. Kumpulan air yang lain menunjukkan warna hijau. Perbedaan warna itu menunjukkan perbedaan suhu dari permukaan laut. Akan tetapi, sebagaimana yang kita ketahui semua, samudera dan laut akan terlihat dengan warna biru di hadapan mata kita. Percampuran ini hanya dapat dilihat dan diterima dengan penelitian ilmiah dan teknologi modern. Allah telah menjelaskan kepada kita di dalam al-Quran bahwa:

 

“Dia membiarkan (maraja) dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing ” (QS ar-Rahman: 19 – 20)

Secara tradisi, ada dua tafsiran utama dari ayat ini. Yang pertama, menunjukkan dengan mengikud arti harfiah dari istilah maraja, laut yang bertemu dan bercampur dengan yang lain. Akan tetapi, pada kenyataannya al-Quran melanjutkan pengertian itu bahwa ada pembatas antara mereka. Arti pembatas ini secara sederhana mencegah laut dari melanggar hal keduanya atau penggenangan dengan yang lain.

Pendukung pendapat kedua, menanyakan bagai­mana bisa ada pembatas antara laut yang mana mereka tidak melanggar satu dengan yang lain. Sedangkan ayat ini menunjukkan bahwa laut saling bertemu? Mereka menyimpulkan bahwa laut tidak bertemu dan mencari arti lain dari istilah maraja, tetapi sekarang ilmu pengetahuan modern menunjukkan kita dengan informasi yang cukup untuk menyelesaikan persoalan ini. Laut tidak bertemu sebagaimana yang kita lihat, sebagaimana contoh di dalam gambar Mediterranean dan Samudera Atlantik. Meskipun ada pembatas air yang condong di antaranya, kita sekarang tahu bahwa mela­lui pembatas ini air dari masing-masing laut itu melintasi yang lain. Tetapi ketika air dari laut satu memasuki laut yang lain, akan kehilangan sifat tersendirinya dan menjadi sejenis dengan air yang lain. Pada suatu jalan, pembatas ini menjalankan sebuah peralihan area sejenis untuk dua macam air.

Inilah sebuah contoh yang unggul dari penelitian ilmiah modern Islam. Dengan demikian teknik modern dapat digunakan untuk menunjukan bahwa al-Quran tidak ada bandingannya. Kami mendiskusikan ayat ini dan beberapa ayat yang lain yang sangat panjang dengan Profesor Hay dan kemudian kami menanyakan kepada beliau pertanyaan sebagai berikut: “Apakah pendapat Anda tentang fenomena ini, yakni teks yang telah Anda miliki sekarang yang telah diturunkan pada 1400 tahun yang lalu dan menggambarkan secara mendetail rahasia alam semesta yang mana tidak seorang pun pada waktu itu yang pernah mengetahuinya secara sederhana karena teknik dan peralatan yang tersedia?

Profesor Hay menjawab: “Saya mendapatkan hal yang sangat menarik bahwa informasi semacam ini di dalam kitab Injil kuno dari kitab al-Quran dan saya tidak rnemiliki cara mengetahui mereka datang dari mana, tetapi saya pikir hal ini luar biasa menarik dan pekerjaan ini akan berlanjut untuk menemukannya, arti dari beberapa bagian ini. ” Dia ditanyai: “Kemudian Anda telah menolak dengan mutlak hal ini berasal dari sumber manusia. Siapa yang Anda pikiirkan informasi seperti ini dari sumber yang asli?” Profesor Hay menjawab: “Baik, saya berpikir pasti ini berasal dari Tuhan. “

Sebenarnya ini adalah pengetahuan Ketuhanan yang diturunkan Allah untuk mendukung pesan Nabi Muhammad SAW, yang mana beliau bersabda:

 

“Setiap Rasul telah diberi sesuatu untuk membuat umatnya percaya kepadanya. Tetapi aku diberi petunjuk oleh Allah, dan aku berbarap, aku akan memiliki pengikut paling banyak di hari kiamat. ” (HR Bukhari)

 

Petunjuk ini berisi keajaiban dan tetap dipegang teguh sebagai buku kepada manusia sampai akhir zaman.